Kisah di Balik Pembuatan Lagu Kemarin, Ifan Seventeen Sempat Protes: Ini Kayak Lagu Orang Mati

Kisah di Balik Pembuatan Lagu Kemarin, Ifan Seventeen Sempat Protes: Ini Kayak Lagu Orang Mati

Lagu berjudul 'Kemarin' yang dipopulerkan grup band Seventeen sempat menjadi perbincangan banyak orang. Pasalnya, lagu 'Kemarin' seperti menggambarkan kondisi memilukan yang menimpa Ifan sang vokalis Seventeen setelah melalui peristiwa tsunami di Tanjung Lesung, Banten pada 2018 lalu. Lagu 'Kemarin' yang direkam sejak 2015 ini seolah menjadi pesan bahwa memang akan terjadi sesuatu.

Ifan Seventeen kini benar benar sendiri pasca tiga personel band nya, yakni Herman, Andi, dan Bani meninggal dunia karena tsunami. Namun siapa sangka, sebelum lagu 'Kemarin' selesai direkam dan dirilis, Ifan sempat protes kepada rekan satu band nya sekaligus pencipta lagu, Herman. Pria 38 tahun itu meminta pada Herman untuk mengganti lirik lagu 'Kemarin'.

Menurut Ifan, lagu 'Kemarin' menyiratkan tentang kematian "Di awal awal itu saya request sama Herman, 'Ini loh kayak orang mati, lagu orang mati ini'," ungkap Ifan Seventeen. "Terus Herman cuma, 'Hihi emang lagu orang mati'," sambungnya.

Tak hanya Ifan, produser musik yang saat itu ikut dalam penggarapan lagu 'Kemarin' pun menyarankan Herman untuk mengganti kalimat pada lirik lagu tersebut. "Aku ngomong ini liriknya enggak bisa diganti ya, Man? Maksudnya ini kayak cerita tentang orang meninggal," kata sang produser musik, Tama Wicitra. "Coba mas Herman diutak atik sedikit bisa enggak, kata dia enggak usah, begitu aja. Yaudah enggak apa apa ya," bebernya.

Kini, lagu 'Kemarin' seakan menggambarkan kondisi Ifan saat ini yang ditinggalkan semua anggota Seventeen. Bahkan, akibat tsunami di Tanjung Lesung, Ifan Seventeen juga kehilangan sang istri, Dylan Sahara. Film Kemarin, yang menceritakan tentang kisah mengharukan perjalanan Band Seventeen, akan tayang di Bioskop Online mulai 19 Maret 2021.

Film Kemarin versi director’s cut, bercerita tentang pengalaman Band Seventeen menghadapi tragedi tsunami akan mulai ditayangkan secara terbatas di Bioskop Online mulai 19 21 Maret 2021. Film ini juga mendapatkan lima nominasi dan meraih satu penghargaan di ajang Piala Maya 9, untuk Lagu Tema Terpilih berjudul Kemarin yang dibawakan oleh Seventeen. Bagi Anda yang berminat menonton film ini, penjualan tiket sudah dimulai 9 Maret 2021, dengan harga Rp 30.000 di www.bioskoponline.com .

Film berdurasi 97 menit ini merupakan film dokumenter drama karya Upie Guava. Dikutip dari siaran pers, film Kemarin mengangkat tentang kisah nyata perjalanan karir Band Seventeen dari tahun 1999 hingga terjadinya tsunami Banten tahun 2018. Film ini juga berisikan dokumentasi pribadi dari para personel dan kru Seventeen yang belum pernah dibagikan sebelumnya.

Eross Candra (Gitaris Sheila On 7), Erix Soekamti (Bassist Endank Soekamti), dan Doni Gembor yang merupakan vokalis pertama Band Seventeen juga turut membagikan kenangan mereka tentang lahir dan bertumbuhnya Seventeen hingga saat ini. "Saya pribadi dan seluruh keluarga seventeen sangat senang adanya kerjasama dengan Bioskop Online. Ini membukakan jalan film kami untuk bertemu dengan penonton yang belum sempat menonton filmnya di bioskop." "Dan yang spesial, film yang akan tayang adalah versi director’s cut, yang menurut saya lebih baik dan lebih sedih dari pada versi sebelumnya, jadi yang sudah nonton pun harus nonton lagi karena pengalaman menontonnya akan berbeda," ungkap Ifan vokalis Seventeen.

Kemarin adalah film yang mengisahkan tentang kemanusiaan, relationship, dan cinta. Cinta kepada pasangan, diri sendiri, keluarga, teman, dan lainnya. Dikutip dari kolom deskripsi trailer film Kemarin pada kanal YouTube Movie Trailer, film ini akan menjadi kenangan indah dan pengungkap fakta perjuangan band asal Yogyakarta itu hingga dipisahkan oleh maut.

Setahun lebih setelah peristiwa yang terjadi pada 22 Desember 2018, akhirnya Seventeen bisa merampungkan produksi film semi dokumenter mereka bertajuk Kemarin. Tragedi yang membawa pergi M. Awal Purbani (Bani bassis), Herman Sikumbang (Herman gitaris), Windu Andi Darmawan (Andi drummer), serta Oki Wijaya (road manager), Ujang (kru) dan Dylan Sahara itu menjadi poros utama di film ini. Dua minggu sebelum tragedi terjadi, Seventeen dan managemen melakukan internal meeting yang memutuskan 3 hal.

Salah satunya adalah pembuatan dokumenter perjalanan Seventeen. Manajemen pun mulai merancang semua dokumen perjalanan selama hampir 20 tahun Seventeen. Hingga akhirnya, rencana tersebut diurungkan karena tsunami yang menimpa mereka.

Satu bulan kemudian, 22 Januari 2019, secara ajaib tim management menemukan kamera milik almarhum Andi yang merekam detik detik terakhir kebersamaan mereka sebelum manggung. Bahkan momen saat tsunami datang menggulung panggung Seventeen di lagu kedua mereka pun terabadikan. Kamera Andi ditemukan dalam keadaan rusak, namun memory card masih bisa diakses datanya.

"Setelah menemukan kamera Andi itu, gue memutuskan untuk melanjutkan pembuatan dokumenter Seventeen." "Ifan awalnya risih diikuti kamera kemana mana karena salah satu cerita di sana adalah kejadian setelah tsunami dan Ifan satu satunya personel inti yang bertahan hidup," ujar Dendi Reynando CEO Makarya Pictures. Upie Guava pun didaulat menjadi sutradara bersanding dengan Wisnu Surya Pratama sebagai penulis naskah.

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *